Pages

Senin, 05 September 2011

Hope

Aku kembali bimbang,
Antara hati dan akal,
Antara perasaan dan pikiran,
Seolah mereka tak pernah menyatu,
Selalu ada ragu yang bersarang dalam hatiku,
Yang aku tak pernah mengerti maknanya,
Kehidupanku kembali membentuk paradox,
Aku yang selalu ingin diam,
Kini saatnya aku harus membagi,
Apa yang aku inginkan dan apa yang telah terjadi
Semuanya menjadi ilusi,
Meskipun
Mozaik-mozaik kehidupan kembali aku rangkai,
Tanpa aku sadari,
Aku justru terjatuh lebih dalam
Terjebak dalam pikiranku
Bersama dengan khayalan-khayalanku
Aku kembali ragu dengan jalan kehidupanku
Tapi saat itu
Aku mencoba menyalakan kembali api itu; api harapan,
Yang kata orang; selalu menyala.

(Tepat Hari Ini Satu Tahun Yang Lalu…)

Quotes and ideas to move and inspire you...^^


Akh, terkadang saya begitu naif pada diri sendiri, saya memiliki sejuta mimpi. Tapi entah mengapa rasa malas itu masih sering berkutat dalam benak saya. Berbagai macam cara saya lakukan untuk kembali membangkitkan mimpi dan cita-cita saya^^

Termasuk quotations atau kutipan-kutipan sederhana namun inspiratif dan mampu memotivasi.

Maka, kata-kata Richard Dumb begitu menyentuh pikiran dan hati saya dikala membutuhkan sebuah motivasi dan inspirasi.

Terkadang satu kesempatan emas itu datang bukan dengan hal yang besar melainkan dengan sesuatu hal yang sederhana, sangat simple.

Meskipun mimpi kita adalah sesuatu yang besar tapi jalan menunju mimpi itu selalu berawal dari kesempatan yang tidak pernah kita duga.

Always keep your dreams alive,
Always keep they coming true.




Pseudo-love



Istilah Pseudo-love saya dapat dari Pseudoscience, n_n’ inpirasi in datang pada saat pelajaran Mr. Tony KH (Basic Natural Science).

Pseudo artinya ‘semu’ atau palsu. Kadang-kadang ketika kuliah pikiran saya terbang melayang jauuh dan mulai memikirkan hal-hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan mata kuliah,heu”. Jadilah PSEUDO-LOVE, artinya mungkin ‘Cinta yang semu’ atau ‘Cinta yang palsu’, ekhm. Saya mulai sedikit nakal untuk istilah yang satu ini. Seandainya Pseudoscience diartikan oleh scientist sebagai tubuh pengetahuan, metodologi, kepercayaan, atau praktek yang diklaim menjadi ilmiah atau dibuat untuk tampil ilmiah, tetapi tidak taat kepada metode ilmiah, tidak mendukung bukti atau hal masuk akal, atau tidak status ilmiah.

Istilah ini berasal dari Yunani akar-palsu (palsu atau berpura-pura). Maka seandainya Anda sebagai manusia-sedang mengalami penyakit klasik (utama) terhadap lawan jenis, alias jatuh cinta. Saya sarankan untuk meyakinkan baik secara realistis maupun nonrealistis bahwa perasaan Anda berbalas. Karena jika tidak, mungkin saja Anda saat ini sedang merasakan apa yang dinamakan PSEUDO-LOVE, n_n’ Ibarat cinta tetapi tidak sesuai dengan metodologi cinta, yaa… Anda mencintai tapi orang yang Anda cintai tidak mencintai Anda. Pseudo-love, awasi Cinta Anda sejak dini! :P


Air, Mata Air dan Air Mata



Sudah lama tidak turun hujan. Desa kami kering kerontang. Tidak ada lagi air, mata air telah kering. Hanya air mata yang terus mengalir membanjiri pelupuk mata bayi-bayi di desa kami yang semakin hari semakin keras saja tangisan kelaparan dan kehausan itu. Bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda-pemudi, anak-anak, tak kalah pula nenek dan kakek berbondong-bondong berlarian untuk berebut air ketika sebuah truk pengangkut air datang. Melihat keadaan ini memilukan. Semua pun tahu air itu tak akan cukup memenuhi kebutuhan satu desa ini. Akan tetapi ada kalimat sederhana yang mampu menyihir setiap orang untuk bertahan berebut air itu, ”Siapa cepat dia dapat!” Maka tak seorang pun diantara kerumunan itu akan mau berbagi apa yang telah didapatkannya. Semua mau air. Semua berebut air.

Begitu pula aku. Aku juga mau air. Di bawah matahari yang bersinar sangat terang tanpa menggunakan alas kaki aku ikut berdesak-desakkan dengan orang-orang itu. Dengan semangat membawa dua dirijen besar aku mengikuti aturan main mereka dengan mengantri. Bahkan meskipun sudah mengantri masih saja ada seorang ibu yang berteriak meminta belas asih semua orang yang ada disini. ”Bapak-bapak, mas-mas, tolonglah saya, anak saya lima tidak ada suami pada belum makan mau masak tidak ada air, tolonglah diringankan. Duh Gusti...”

Tidak ada yang mau peduli. Semua ingin air. Berulangkali aku memandangi ibu-ibu itu semakin aku ingat kata-kata ibuku ketika aku hendak berangkat mengambil air. Ketika seorang laki-laki berlari kencang sambil berteriak-teriak mengucapkan kalimat yang sama, ”Woi truk air sudah datang! Woi cepat! siapa cepat dia dapat!” Mendengar teriakan itu. Ibu segera membangunkanku dan menyuruhku untuk segera ikut antrian air itu sambil terus mengingatkan aku.

”Pokoknya harus sampai dapat, jangan keduluan orang lain! Dua dirigen itu harus penuh semua!” katanya. ”Aku nanti menyusul dibelakang! Ikutan mengantri juga!”
Aku pun mengangguk dan segera berlari, tak aku pedulikan alas kakiku, yang aku tahu hanya satu hal, Aku harus dapat air! Ditengah-tengah kerumunan itu tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya melakukan hal yang membuat semua orang disini memperhatikannya dengan terkejut. Dia menarik ember seorang perempuan muda dan membuang air itu ke tanah, seolah-olah dia tak membutuhkan air. Padahal semua orang disini dengan susah payah mengantri, berlarian dan berdesak-desakan hanya untuk mendapat air. Ini musim sulit dan penderitaan bagi orang-orang kami. Tetapi laki-laki sinting ini dengan tanpa dosa merebut air orang dan membuangnya begitu saja, sungguh gila! Kemudian dia berteriak-teriak. ”Hei semuanya! Inilah yang telah dilakukan tuhan pada kita, tidakkah Dia mengerti? Makhluknya hampir mati karena kehausan dan kelaparan. Untuk apa Engkau menciptakan kami, jika akhirnya Engkau bunuh pula kami dengan kondisi haus dan lapar. Kyai-kyai itu berkata: Engkau menciptakan segalanya Tuhan! Air, tanah, api, dan bahkan airmata kami. Tidakkah mudah bagi-Mu menciptakan hujan! Aku takkan berhenti menghujat hingga hujan itu tiba!”

Aku hanya terdiam menatap lelaki itu. Entah mengapa aku begitu takut, apa jadinya jika Tuhan menjadi marah. Seketika aku justru merasakan udara yang semakin memanas dan hembusan angin yang begitu kencang. Dalam hati aku berbisik, ampuni kami Tuhan.

by HeLen :)